Friday, September 19, 2014

Pengertian Kalimat dan Penulisan Kalimat Efektif

Title : Pengertian Kalimat dan Penulisan Kalimat Efektif 
Tag: Pengertian Kalimat, Ciri Kalimat, Unsur-unsur kalinat, jenis-jenis kalimat, kalimat efektif.
KALIMAT DAN KALIMAT EFEKTIF DALAM BAHASA INDONESIA
Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang sudah mengungkapkan pikiran secara utuh. Kalimat dapat bersifat lisan atau tulis. Karena merupakan satuan bahasa terkecil yang sudah mengungkapkan pikiran secara utuh, kalimat tidak menjadi bagian dari kalimat yang lain. Dengan kata lain, kalimat merupakan satuan sintaktik terbesar. Di dalam wujud yang paling sederhana, kalimat dapat berunsur dua kata atau kelompok kata yang masing-masing berfungsi sebagai subjek (S) dan predikat (P).

Ciri Kalimat
Selain didasarkan pada adanya intonasi, tanda baca, atau ketakterikatannya pada konstruksi yang lebih besar; kalimat juga ditandai oleh kemungkinan diubahnya susunan. Di dalam hubungan itu, pengubahan harus tidak mengubah pesan. Perhatikan contoh berikut.
  • (3) anak // yang rajin (berarti ’anak yang tidak malas’)
  • (3a) yang rajin // anak (berarti ’yang rajin bukan orang tua’)
  • (4) anak yang rajin itu // sedang belajar (berarti ’anak yang rajin itu tidak sedang tidur’)
  • (4a) sedang belajar // anak yang rajin itu (berarti ’sedang tidak tidur anak yang rajin itu’)
Karena pengubahan susunan yang tidak mengakibatkan perubahan makna terjadi pada (8), konstruksi yang merupakan kalimat ialah konstruksi (8). Sebaliknya, konstruksi (7) hanya merupakan frase.

Unsur-Unsur Kalimat
Selain subjek dan predikat, kalimat dapat disusun dari unsur yang lebih kompleks. Hal itu dapat dilihat pada contoh berikut.
(5) Ayah // selalu mengirimi // kami // uang // pada setiap awal bulan.
         S               P                      O          Pl.             K
Contoh (5) memperlihatkan bahwa kalimat dapat disusun berdasarkan unsur yang berupa  subjek, predikat, objek (O), pelengkap (Pl.), dan keterangan (K). Konstruksi S-P-O-Pl.-K merupakan konstruksi yang paling lengkap. Sebagai catatan, dalam sebuah kalimat boleh terdapat lebih dari satu K.

Jenis-Jenis Kalimat Dasar dalam Bahasa Indonesia
Kalimat dasar adalah kalimat yang tersusun dari unsur-unsur yang hanya bersifat wajib. Apa pun kalimat yang kita buat, sejauh merupakan kalimat baku, pasti merupakan salah satu, bentuk perluasan, atau gabungan kalimat dasar. Dalam bahasa Indonesia dikenal enam macam PKD bahasa Indonesia.

1. Pola S-P
Para penari berhias.       
Pamanku seorang petani.       

2. Pola S-P-Pl.
Anak sulungnya menjadi pengusaha.   
Semuanya berwajah garang.   

3. Pola S-P-O
Beberapa siswa membuat patung.   
Para korban gempa bumi memperoleh bantuan.   

4. Pola S-P-O-Pl.
Ibu menghadiahi Dina sepeda baru.
Pemerintah Indonesia mengirimi Pemerintah Malaysia surat protes.

5. Pola S-P-K (K bersifat wajib)
Orang-orang itu bertempat tinggal di pedalaman.   
Mereka  berasal dari desa   

Pola S-P-O-K (K bersifat wajib)
Beliau memperlakukan kami dengan baik.
Kami sendiri menyikapi masalah itu dengan wajar.

Jenis-Jenis Kalimat
Kalimat dapat dijeniskan berdasarkan berbagai kategori. Misalnya, berdasarkan peran atau makna unsur-unsurnya, dipilah menjadi kalimat aktif, pasif, resiprokal, dan refleksif. Berdasarkan jumlah unsur pembangun, diperinci menjadi kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Di dalam penggunaan sehari-hari, penyusunan kalimat sering harus mempertimbangkan keefektifan. Berikut pembahasan mengenai kalimat efektif.

Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu mengungkapkan gagasan dengan cermat dan dengan cepat dan tepat dapat dipahami oleh pembaca/pendengar. Kalimat efektif tersyarati oleh dua kaidah, yaitu kaidah gramatikal dan kaidah pragmatik. Ciri gramatikal berkenaan dengan kebakuan konstruksi. Ciri kepragmatikan terlihat pada dipertimbangkannya konteks atau situasi pertuturan. 

Agar efektif, kalimat yang kita susun harus menghindari terjadinya (1) penumpukan gagasan, (2) perancuan struktur dan gagasan, dan (3) kemubaziran. Berikut paparan lebih lanjut.

1. Penumpukan Gagasan
Penumpukan gagasan dapat dilihat pada contoh berikut.
  • Peraturan daerah untuk menata kawasan pemukiman penduduk sedang disusun pemerintah daerah setempat, menyangkut detail tata ruang kawasan itu sebagai tindak lanjut Keppres No. 48/1994 tentang penanganan khusus pemukimam di Surabaya.
Kalimat tsb tidak efektif karena ada dua gagasan yang menjadi bertumpuk karena yang tidak dirangkai dengan baik. Agar efektif, dua gagasan tersebut dipisahkan dalam dua kalimat, seperti berikut.
  • Peraturan daerah yang menyangkut detail tata ruang dan kawasan pemukiman penduduk di Surabaya sedang disusun pemerintah setempat. Penyusunan peraturan daerah itu sebagai tindak lanjutKeppres No.48/1994.

2. Kerancuan Struktur
Kerancuan struktur terdiri atas kerancuan subjek dan keterangan, subjek dan preposisi, aktif dan pasif, serta tipe kemajemukannya.

a. Kerancuan Subjek dan Keterangan
Kerancuan subjek dan keterangan disebabkan oleh adanya kata depan (preposisi) yang tidak sesuai dengan jenis kalimatnya (diatesis aktif pasif ). Konstituen berpreposisi secara gramatikal hanya mengisi fungsi keterangan, bukan subjek. Dalam struktur seperti itu dituntut predikat yang berupa verba pasif. Sebaliknya, konstituen tak berpreposisi secara gramatikal mengisi fungsi subjek sehingga dapat diikuti oleh predikat yang berupa verba aktif. Berikut contohnya.
  • Dalam pengajuan seorang terdakwa di depan sidang memerlukan data yang berupa berkas fakta kejadian yang dituduhkan kepadanya.
Dalam contoh ts konstituen dalam pengajuan seorang terdakwa di depan sidang menjadi keterangan. Dengan demikian, verba predikat harus verba pasif, yaitu diperlukan. Sebaliknya, jika konstituen dalam pengajuan seorang terdakwa di depan sidang akan difungsikan sebagai subjek, preposisi dalam dihilangkan. Predikatnya berupa verba aktif memerlukan. Kemungkinan pembenaran contoh sebagai berikut.
  • Dalam pengajuan seorang terdakwa di depan sidang diperlukan data yang berupa berkas fakta kejadian yang dituduhkan kepadanya.
  • Pengajuan terdakwa di depan sidang memerlukan data yang berupa berkas fakta kejadian yang dituduhkan kepadanya.
b. Kerancuan Subjek Berpreposisi
Kerancuan pada kalimat jenis ini disebabkan oleh adanya preposisi pada konstituen yang seharusnya mengisi subjek. Pembenaran untuk kesalahan semacam itu dilakukan dengan menghilangkan preposisi. Berikut contoh dan pembenarannya.
  • Kepada semua cabang yang menghadapi masalah kemacetan kredit diharuskan secepatnya melapor ke pusat.
  • Semua cabang yang menghadapi masalah kemacetan kredit diharuskan secepatnya melapor ke pusat.
c. Kerancuan Aktif Pasif
Kerancuan aktif dan pasif disebabkan oleh adanya kata tugas (adverb) yang menyelai antara persona dan verba. Untuk menjadi aktif, verba ditambah prefiks me-. Untuk menjadi pasif, adverb dipindahkan ke posisi sebelum persona. Berikut contoh permasalah dan pembenarannya.
  • Saya sudah katakan bahwa meningkatkan mutu dan disiplin pegawai itu tidak mudah.
  • Saya sudah mengatakan bahwa meningkatkan mutu dan disiplin pegawai itu tidak mudah.
  • Sudah saya katakan bahwa meningkatkan mutu dan disiplin pegawai itu tidak mudah.
d. Kerancuan Pola Kalimat Majemuk Setara dan Majemuk Bertingkat
Kerancuan pola kalimat ini disebabkan oleh adanya dua konjungsi, yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif. Pembenaran dapat dilakukan dengan dua cara. Jika akan dijadikan kalimat majemuk setara, konjungsi subordinatif dihilangkan. Sebaliknya, jika akan dijadikan kalimat majemuk bertingkat, konjungsi koordinatif dihilangkan. Berikut contoh kasus dan pembenarannya.
  • Walaupun peluh membasahi tubuhnya, tetapi petani itu tetap  mengayunkan cangkulnya di bawah terik matahari. 
  • Peluh membasahi tubuhnya, tetapi petani itu tetap mengayunkan cangkulnya di bawah terik matahari.
  • Walaupun peluh membasahi tubuhnya, petani itu tetap mengayunkan cangkulnya di bawah terik matahari.
e. Ketiadaan Induk Kalimat
Kerancuan pada pola kalimat ini disebabkan oleh adanya dua konjungsi subordinatif. Pembenarannya dapat dilakukan dengan dua cara berdasarkan inti informasi. Jika inti dikenakan pada informasi tentang penyebab, konjungsi yang mengungkapkan sebab dihilangkan. Sebaliknya, jika inti dikenakan pada informasi tentang akibat, konjungsi yang menyatakan akibat dihilangkan. Berikut contoh kasus dan pembenarannya.
  • Karena bukti-bukti pelanggaran tidak ditemukan lagi, maka ia hanya dikenakan sanksi denda Rp50.000,00.
  • Bukti-bukti pelanggaran tidak ditemukan lagi maka ia hanya dikenakan sanksi denda Rp50.000,00.
  • Karena Bukti-bukti pelanggaran tidak ditemukan lagi, ia hanya dikenakan sanksi denda Rp50.000,00.

f. Ketidaksejajaran
Ketidakefektifan pada kalimat ini disebabkan oleh ketaksejajaran bentuk atau struktur pengungkap gagasan yang sebenarnya pararel. Pembenaran dapat dilakukan dengan menyejajarkan bentuk atau struktur demi tercerminkannya kepararelan gagasan. Berikut disajikan contoh dan pembenarannya.

3. Redundansi
Redundansi adalah keberlebihan sehingga bersifat mubazir. Redundansi sinonimi adalah kelewahan informasi karena adanya pengulangan secara makna. Pembenaran redudansi jenis ini dapat dilakukan dengan menghilangkan salah satu kata yang besinonimi. Berikut contoh permasalahan dan pembenarannya.
  • Dalam penertiban pedagang kaki lima diperlukan keterlibatan  berbagai pihak, seperti misalnya kepolisian, kehakiman, pejabat pemerintah, dan LSM.
  • Dalam penertiban pedagang kaki lima diperlukan keterlibatan berbagai pihak, seperti kepolisian, kehakiman, pejabat pemerintah, dan LSM.



Sampitkota Remaja Sampit Updated at: 6:11 PM

Tuesday, September 16, 2014

Pengertian Paragraf dan Penulisan Paragraf yang Baik

Title : Pengertian Paragraf dan Penulisan Paragraf yang Baik
Tag : Pengertian Paragraf, Ciri Paragraf, Syarat Paragraf yang Baik

PARAGRAF DALAM BAHASA INDONESIA
Pengertian Paragraf
Paragraf adalah kumpulan informasi yang mengungkapkan keutuhan pesan karena adanya gagasan utama sebagai pengendali.
 
Ciri Paragraf 
  1. Bertakuk: Baris awal paragraf menjorok 5 karakter.
  2. Merenggang: Spasi awal paragraf lebih lebar dibandingkan spasi yang lain.
conotoh:
      Dua pemain PSS harus berurusan dengan polisi karena tertangkap basah ketika berpesta sabu-sabu di sebuah hotel. Pertandingan antara kedua kesebelasan itu diwarnai kerusuhan karena ulah para sporter. Pelaksanaan liga sendiri berjalan lancar meski tidak sesuai target. Beberapa penonton dilaporkan masuk tanpa membeli tiket.
 
Syarat Paragraf yang Baik 
1. Ketunggalan
Paragraf hanya memiliki satu gagasan utama.  Gagasan utama lazim diwujudkan dalam kalimat topik. Kalimat/informasi yang lain sekadar menjelaskan atau mendukung gagasan utama. Kalimat yang tidak berhubungan dengan gagasan utama harus dihilangkan atau dikeluarkan dari paragraf itu.

contoh:
(2)         Mbah Paijo tidak tahu banyak tentang desa kelahirannya. Ia tidak tahu-menahu mengapa desanya itu dinamai Desa Karangpucung. Ia tidak tahu-menahu mengapa Sungai Banjaran kini mengering. Ia juga tidak tahu-menahu mengapa nenek moyangnya dahulu sampai ke situ. Meskipun sudah uzur, Mbah Paijo masih gesit dan cekatan. Begitu bangun pagi, tanpa harus minum kopi dahulu, ia memanggul cangkul dan menuju ke ladang. Ia terus mengayun cangkulnya untuk membongkar tanah liat yang sudah mengeras karena musim kemarau yang panjang.

(2a)      Mbah Paijo tidak tahu banyak tentang desa kelahirannya. Ia tidak tahu-menahu mengapa desanya itu dinamai Desa Karangpucung. Ia tidak tahu-menahu mengapa Sungai Banjaran kini mengering. Ia juga tidak tahu-menahu mengapa nenek moyangnya dahulu sampai ke situ.
Meskipun sudah uzur, Mbah Paijo masih gesit dan cekatan. Begitu bangun pagi, tanpa harus minum kopi dahulu, ia memanggul cangkul dan menuju ke ladang. Ia terus mengayun cangkulnya untuk membongkar tanah liat yang sudah mengeras karena musim kemarau yang panjang.
 
2. Kepaduan
Seluruh informasi dalam paragraf harus memperlihatkan adanya hubungan, baik secara bentuk (kohesif) maupun secara nalar (koherensif).

contoh:
(3)      Meskipun kebudayaan Indonesia sangat banyak, pada dasarnya terbentuk dari kebudayaan lain. Misalnya, kebudayaan India, kebudayaan Tionghoa, dan kebudayaan Arab. Kebudayaan-kebudayaan itulah asal dari berbagai agama yang dianut bangsa ini. Hal itu sesuai dengan ramainya arus perdagangan, baik yang sifatnya lintas pulau maupun lintas bangsa.
(3a)     Meskipun kebudayaan Indonesia sangat banyak, pada dasarnya terbentuk dari kebudayaan lain. Misalnya, kebudayaan India, Tionghoa, Arab, dan Eropa. Kebudayaan-kebudayaan itu masuk bersamaan dengan menyebarnya agama Hindu, Budha, Khong Hucu, Islam, Kristen. Agama-agama itu sampai ke berbagai pelosok Indonesia dengan menumpang arus perdagangan, baik yang sifatnya lintas pulau maupun lintas bangsa.

3. Kelengkapan
Mengungkapkan seluruh informasi tentang gagasan utama. Paragraf tidak “menyisai” pertanyaan kepada pembaca.

contoh:
(4)      Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah. Pertama, memberantas sarang nyamuk penyebar demam berdarah. Seperti kita ketahui bahwa nyamuk penyebar demam berdarah ini biasanya berkembang di genangan air. Jentik-jentik nyamuk yang berada di genangan air itu akan menetas dalam waktu tujuh hari. Oleh karena itu, genangan air harus ditimbun.
(4a)     Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah. Pertama, memberantas sarang nyamuk penyebar demam berdarah. Kedua, mengubur benda-benda yang memungkinkan terjadinya genangan air. Ketiga, menguras dan menggosok dinding bak atau tempat air yang lain yang biasanya dijadikan tempat bertelur nyamuk. Yang terakhir, melakukan penyemprotan di wilayah yang sudah terjangkiti penyakit demam berdarah.

4. Keruntutan
Mengungkapkan seluruh informasi tidak secara bolak-balik, tetapi berdasarkan alur tertentu. Keruntutan menghindarkan terjadinya “lompatan-lompatan” informasi.

contoh:
(5)      Dalam kegiatan berwudu yang dilakukan ialah berkumur, membasuh muka; membasuh tangan; membasuh rambut; membasuh telinga, membasuh kaki. Namun, sebelumnya harus membaca niat. Sesudah itu, diakhiri dengan doa.
(5a)    Dalam kegiatan berwudu yang pertama dilakukan ialah membaca niat. Sesudah itu, berkumur; membasuh muka; membasuh tangan; membasuh rambut; membasuh telinga; membasuh kaki. Kegiatan berwudu diakhiri dengan membaca doa.
 
Jenis Paragraf Berdasarkan Model Penalaran 
  1. Paragraf Deduktif. Paragraf deduktif adalah paragraf dengan penceritaan yang bergerak dari hal umum ke khusus.
  2. Paragraf Induktif. Paragraf induktif adalah paragraf dengan penceritaan yang bergerak dari hal khusus ke umum.
  3. Paragraf Deduktif-Induktif. Paragraf deduktif-induktif adalah paragraf dengan penceritaan yang bergerak dari hal umum ke khusus lalu kembali ke hal umum.
  4. Paragraf Induktif-Deduktif. Paragraf induktif deduktif adalah paragraf dengan penceritaan yang bergerak dari hal khusus ke umum lalu kembali ke hal khusus.
Terimakasih telah membaca artikel yang berjudul Pengertian Paragraf dan Penulisan Paragraf yang Baik semoga bermanfaat dan memberikan tambahan khazanah ilmu khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Sampitkota Remaja Sampit Updated at: 5:32 AM

Wednesday, September 10, 2014

Bubble Widget Akeno Himejima (High School DxD)

Bubble Widget Akeno Himejima (High School DxD)
Akeno Himejima (High School DxD)
Nama : Akeno Himejima
Ukuran : 220x341
Caranya mudah. Login ke blog seperti biasa, Pilih Tata Letak, Pilih Tambah Gadget, Pilih Tambah HTML/Javascript. Copy dan Paste code berikut :
POSISI BAWAH KIRI
POSIS BAWAH KANAN
POSIS DI SIDEBAR

Sampitkota Remaja Sampit Updated at: 6:47 PM

 
Design by Remaja Sampit | Contras .v1, | Gudang Widget