Friday, April 26, 2013

Sinopsis Novel Para Priyayi, Karya Umar Kayam

Sinopsis Novel Para Priyayi, Karya Umar Kayam
 
Soedarsono anak keluarga buruh tani yang oleh sanak saudaranya diharapkan menjadi "pemula" untuk membangun keluarga priyayi. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten, ia dapat sekolah dan menjadi seorang guru. Disinilah ia mulai menapaki dunia priyayi pangreh praja. Soedarsono memiliki tiga orang anak, Noegroho (Opsir Peta), Hardojo (Guru), dan Soemini (istri Asisten Wedana). karena hidup berkecukupan Soedarsono merasa wajib membantu sanak saudaranya yang tidak mampu, dibawalah tiga keponakannya (Sri, Soedarmin, dan Soenandar) untuk ikut tinggal dan di sekolahkan di Wanagalih. Salah atu keponakannya Soenandar memiliki perangai yang berbneda dari yang lain, jail, nakal, dan selalu gagal dalam belajar.

Suatu ketika Seodarsono yang telah berganti nama menjadi Sastrodarsono, mengutus Soenandar untuk mengurus sekolah yang didirikannya di Wanalawas, diharapkan agar Soenandar lebih mandiri dan dapat bertanggung jawab. tapi Soenandar justru menghamili anak penjual tempe dan kabur. Lahirlah Wage yang kemudian diboyong ke wanagalih, dirawat dan disekolahkan, kemudian diganti namanya menjadi Lantip. Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono  yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi.

Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip  tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang hanya beberapa kilometer dari kota Wanagalih. Hubungan Embok Lantip dengan keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan tempe. Rupanya tempe buatan Embok Lantip itu berkenan di hati keluarga Sastrodarsono. Buktinya kemudian tempe Embok itu jadi langganan keluarga tersebut.

Lantip selalu ikut membantu menyiapkan dagangan tempe, dan ikut menjajakan nya berjalan di samping atau di belakang Mboknya menyelusuri jalan dan lorong kota. Lantip ingat bahwa dalam perjalan itu sengatan terik matahari Wanagalih. Wanagalih memang terkenal sangat panas dan rasa haus yang benar-benar mengeringkan tengorokan. Sekali waktu Lantip pernah merengek kepada Emboknya untuk dibelikan jajanan. Dengan ketus Emboknya menjawab dengan “Hesy! Ora usah”, dan Lantip pun terdiam. Lantip tahu Emboknya, meskipun murah hati juga sangat hemat dan tegas. Dia akan lebih senang  bila kami melepas haus di sumur pojok alun-alun atau bila beruntung dapat sekedar air teh di rumah langganan Emboknya. Salah satu langganan Emboknya yang murah hati itu adalah keluarga Sastrodarsono. Mereka dipanggil oleh keluarga Sastrodarsono. Mereka menyebutnya dengan “Ndoro Guru” dan “Ndoro Guru Putri”. Waktu mereka melihat Embok datang membawa Lantip, Ndoro Guru menanyakan dengan nada suara sangatlah ulem-nya dan penuh wibawa.

Sejak itu rumah keluarga Sastrodarsono menjadi tempat persinggahan mereka, hubungan mereka dengan keluarga itu menjadi akrab, bahkan lama-lama rumah itu menjadi semacam rumah kedua bagi mereka. Tetapi sangatlah tidak  pantas rumah gebyok itu terlalu besar dan bagus untuk dikatakan rumah kedua mereka bila disejajarkan dengan rumah mereka yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu di desa Wanalawas. Juga bila diingat bahwa rumah itu adalah rumah milik seorang priyayi, seorang mantri guru sekolah desa, yang pada zaman itu mempunyai kedudukan cukup tinggi di mata masyarakat seperti Wanagalih. Mantri guru sudah jelas didudukan masyarakat dan pemerintah sebagai priyayi, ia punya jabatan dan juga punya gaji.   

Sastrodarsono, adalah anak tunggal Mas Atmokasan seorang anak petani desa Kedung Simo. Sebelumya ia  hanya bekerja sebagai  guru bantu di Ploso. Dengan janbatan guru bantu itu, berarti Sastrodarsono adalah orang pertama dalam keluarganya yang berhasil menjadi priyayi. Sastrodarsono dijodohkan dengan Ngaisah yang nama aslinya Aisah putri tunggalnya seorang mantri candu di Jogorogo. Dik Ngaisah, begitu ia memanggil istrinya, ia seorang istri yang mumpunyai lengkap akan kecakapan dan keprigelannya bukan hanya pandai mamasak ia juga memimpin para pembantu di dapur, karena memang sejak lahir ia sudah menjadi anak priyayi dibandingkan dengan Sastrodarsono yang baru akan menjadi priyayi.

Anak-anak mereka lahir dalam jarak dua tahun antara seorang dengan yang lain. Noegroho anak yang paling tua, kemudian menyusul kelahiran adik-adik Noegroho, Hardojo dan Soemini. Anak-anaknya mereka masukan ke sekolah HIS, sekolah dasar untuk anak-anak priyayi, kemudian meneruskan pelajaran ke sekolah menengah atas priyayi, seperti MULO, AMS atau sekolah-sekolah guru menengah, seperti Sekolah Normaal, Kweek Sekul dan sebagainya.

Dalam perkembangan pembangunan keluarganya, mereka tidak hanya membatasi mengurus keluarga mereka saja, mereka juga sangat memperhatikan anggota keluarga yang jauh baik dari Sastrodarsono maupun dari keluarga Dik Ngaisah. Ngadiman, anak dari sepupu Sastrodarsono dititipkan pada keluarganya untuk disekolahkan di HIS dan berhasil menjadi priyayi walaupun hanya priyayi rendahan yaitu  bekerja sebagai juru tulis di kabupaten. Begitu juga dengan kemenakan lain seperti Soenandar, Sri dan Darmin, semuanya mereka sekolahkan di HIS.

Soenandar yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak mau mengakui kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi, Soenandar  bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang markasnya telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar.
Semenjak Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa dan malu karena ia hanya  anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya tetapi tidak mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya  adalah gerombolan perampok. Selain itu juga sekarang Lantip mengerti mengapa keluarga Sastrodarsono sangat memperhatikan kehidupannya dan Ngadiyem Emboknya, karena Soenandar, yang  ayahnya Lantip itu, adalah masih tergolong keluarga dari Sastrodarsono

Hardojo anak kedua Sastrodarsono, anak yang paling cerdas dan yang paling banyak disenangi orang. Sekarang seperti adiknya, Soemini, sudah mapan mau membangun rumah tangga di tempatnya ia mengajar di Yogya dengan seorang guru tamatan kweekschool tetapi beragama Katholik. Orang tuanya, orang baik-baik, priyayi, guru di sekolah HIS katolik di Solo. Tetapi keinginan menikah dengan Dik Nunuk yang nama lengkapnya adalah Maria Magdalena Sri Moerniati begitu nama calon istri Nugroho, guru sekolah dasar khusus untuk anak perempuan di kampung Beskalan  ditolak oleh keluarga Sastrodarsono yang keluarganya beragama Islam.

Sesudah Noegroho kembali ke Wanagalih untuk menghibur bapaknya yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan Nippon, hal ini dikarena bapaknya dituduh mendirikan sekolah liar, padahal Sastrodarsono mendirikan sekolah hanya untuk menolong orang-orang desa yang tidak bisa membaca dan menulis, “yang disebut sekolah di Wanalas itu usaha kami sekeluarga. Kami pengagum Raden Adjeng Kartini, Ndoro. Kami Cuma meniru beliau, Ndoro.” Begitu ucapan bapaknya masih terngiang di telinga Noegroho saat beralasan pada tuan Nippon.

Seperti biasa Noegroho kembali bekerja di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis sekolah pada jaman Jepang gouverment’s HIS Jetis. Tetapi tanpa di duga Noegroho mendapat panggilan terpilih untuk ikut tentara peta atau Pembela tanah Air, dan segera berangkat ke Bogor untuk menjalani latihan dan saringan yang nantinya dapat ditempatkan di daidan-daidan atau batalyon-batalyon di Jawa.

Sepeninggalannya Mbah putri kesehatan Eyang kakung semakin memburuk yang aampai akhirnya ia meninggal dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal untuk Mbah kakung Sastrodarsono semua anggota keluarga Sastrodarsono tidak ada yang berani memberikan pidato kata-kata terakhir, pada akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga besar Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah kakung di makam itu.

Ditulis Oleh : Fidian Armstrong ~ Tutorial Dan Variasi Blog

Remaja Sampit Sobat sedang membaca artikel tentang Sinopsis Novel Para Priyayi, Karya Umar Kayam. Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya. Terima Kasih...

:: Get this widget ! ::

Sampitkota Remaja Sampit Updated at: 9:23 PM

1 comments:

daftarbisnisnet said...

ohh..
widget yang cukup menarik gan

Post a Comment

 
Design by Remaja Sampit | Contras .v1, | Gudang Widget